Friday, December 26, 2008

0 comments
Novel ini karya Akhyar....untuk perlombaan cerpen di Jakarta

Sudah lama aku ingin datang ke tanah jajahan nenek moyang kami ini. Dari cerita-cerita yang kudengar, katanya negara itu seperti sepetak tanah yang ditanami pohon uang, sangat kaya. Tapi bukan itu fackor utama yang merayu minatku untuk bertualang hingga kesini, melainkan iklim tropisnya yang membuatku dan kebanyakan orang eropa ingin berwisata ke negara yang lazim disebut Indonesia ini.
Di bandara Soekarno Hatta, seturunku dari pesawat, aku terdiam sejenak. Kubiarkan bola mataku meliar memandangi belahan dunia yang satu ini. Setelah lebih 14 jam jasadku terkurung di dalam pesawat yang suhu udaranya nyaris membekukan sekujur tubuhku, kini kunikmati cahaya matahari terik menjilat kulit putihku dan angin segar memainkan rambut ikal pirang sebahuku. Aku seperti sedang merasakan percikan suasana surga yang selama ini kudambakan. Nikmat sekali. Lamunanku buyar ketika Ann, istriku, meneriakkan namaku. Ternyata ia dan putriku tunggalku ,Karen, sudah jauh disana. Terlihat tawa ringan mereka yang lepas. Entah karena mereka merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan, atau menertawakan kelakuanku yang seperti seekor burung baru dilepaskan dari sangkarnya. Terserah.
Di bandara, Rasyid sudah menunggu kedatangan kami sekeluarga. Rasyid teman kuliahku di Wageningen University . Ia muslim yang baik, ramah, dan kocak. Kami sempat bercerita banyak. Mengulas kembali memori-memori lama semasa kami masih kuliah dan tinggal 1 flat. Satu yang paling aku suka darinya, ia tidak pernah tertawa dengan lelucon yang ia buat, padahal aku dan teman-teman yang lain sudah nyaris terkencing karena tertawa oleh lelucon orang Indonesia ini.
“Rafael, berapa kali road block selama di pesawat?” gumamnya pelan dalam bahasa inggris yang tak lepas dari logat Jawa yang kental, disartai senyum tipis di wajahnya tanpa mengurangi konsentrasi mengendarai mobil.
Istri dan anakku juga menilainya seperti itu. Kocak tapi tidak kurang ajar. Di dalam mobil BMW-nya suasana begitu hangat dan ceria sepanjang perjalanan ke rumahnya sore itu.
Sesampai di rumahnya kami disambut hangat oleh keluarganya. Istrinya juga begitu sopan dan ramah. Aku tidak menjabat tangannya mengingat salah satu cerita yang pernah disampaikan beberapa waktu silam bahwa lelaki atau wanita muslim tidak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan keluarga dekatnya. Sepasang anak remajanya juga tak kalah ramah. Bahasa Inggris mereka bagus. Malam pertamaku berada di Jakarta begitu berkesan. Aku mulai menaruh hati pada negara ini. Dan orang-orangnya.
***
Jakarta ternyata jauh lebih spektakuler adri apa yang pernah terbayang di benakku selama ini. Apa yang kulihat di TV hanyalah potongan-potongan kecil dari Jakarta yang sebenarnya. Setelah 24 tahun tersekat di dalam suramnya dunia yang terlihat dari negaraku, akhirnya aku dapat melangkahkan kaki ke ‘mantan’ ibukota negaraku yang lama, Indonesia. Kalau bukan karena menjadi seorang fotografer sebuah majalah, kurasa aku tidak akan pernah menginjak kota metropolitan ini. Hayalku bermain sejenak ketika aku berdiri di depan Tugu Monas yang kurus tinggi menjulang menusuk awan. Pantas saja Indonesia memilih untuk melepaskan Timor Timur, tanah kelahiranku itu terlalu jauh dari kemewahan dan dan keluarbiasaan yang tengah kunikmati sekarang. Pikirku sepintas lalu.
Lamunanku terpecah ketika sekumpulan orang –sepertinya terdiri dari dua keluarga—melintas tidak jauh dari tempat aku dan tripod kamera SLR-ku berdiri. Empat orang tempatan—sepertinya—dan tiga orang bule. Salah sorang bule perempuan, kusangka ia seumuranku, menyandang kamera SLR juga. Sepertinya dia fotografer atau orang yang menyukai fotografi. Bukan kameranya yang menarik biji mataku hingga melirik lama mengikuti arah perginya, tapi si empunya yang benar-benar menggoda. Cantik, seksi, nyaris sempurna. Kulemparkan senyum ramah ketika ia balas memandangku. Ia sadar sedang kuperhatikan.
Ciiss…
Ia membalas senyumku. Segera kukemasi tripod dan peralatan yang sedari tadi tengah kugunakan untuk menangkap beberapa foto pemandangan dan aktifitas di sekitar Tugu Monas. Kuurungkan niatku menuggu senja di sini. Ada yang lebih menarik dari sekedar tugu korek api sialan ini. Ternyata Jakarta punya banyak pesona dibalik kepadatan penduduk dan pendatangnya. Jakarta memang indah untuk dinikmati.
***
Jakarta rasanya terlalu sulit untuk kulupakan. Bukan saja tempat dan suasanyanya yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannku, tapi orang-orang yang yang kutemui juga. Unik. Dari Tuan Rasyid teman ayahku, kemudian anggota keluarganya, dan pria tadi. Tadi ketika ayah, ibu, dan Tuan Rasyid sekeluarga bersepakat untuk melepas lelah di salah satu sudut taman di sekitar monument nasional Indonesia itu, aku memilih untuk memisahkan diri. Alasannya berkeliling sambil mengambil beberapa foto di sekitar sini. Padahal bukan itu yang kuincar, melainkan seorang lelaki yang melemparkan senyum kepadaku beberapa saat lalu. Sang fotografer berkulit hitam.
Lelah otot mataku bergerak, mencari keberadaan pria berkulit hitam itu. Kulanjutkan langkahku menuju kerumunan orang di sudut yang lain, berharap akan menemukannya. “Kemana dia?” gumamku dalam hati. Sesekali kutoleh juga ke belakang, namun sosok yang kucari belum kelihatan. Aku berdiri sejenak. Aku tahu dia sedang memperhatikanku. Kukeraskan tubuhku, kupejamkan mataku, lalu kumainkan perasaanku. Ada bunyi langkah yang mendekatiku. Di belakang. Agak tergesa, namun tiba-tiba berhenti. Benar, itu dia. Kupalingkan kepalaku ke arahnya sambil membuka mata dan melepas tawa ringan. Melalui sebuah lensa kamera SLR, sang fotografer berkulit hitam mengekerku.
Click… Dapat.
***
Pikiranku sudah mulai tak nyaman. Beberapa firasat muncul di benakku. Sudah lebih setengah jam kami ditinggalkannya, tapi ia belum kembali juga.
“Biarkan Karen menikmati kota Jakarta untuk sesaat…” Aku tak tahu apa Rafael benar-benar bertidak takut akan anaknya yang tak kunjung kembali, atau hanya menghibur diri. Dari raut wajahnya, Ann , sudah terlihat sedikit risau. Matanya sudah mulai liar menerawang, seperti ayam betina yang kehilangan anaknya.
“Lebih baik kita mencarinya. Hari sudah menjelang senja.” Usulku disambut tanpa bantahan. Semua beredar. Istri dan putriku kuperintahkan tetap di tempat. Yang lain kuminta langsung kembali ke tempat ini begitu menemukan Karen. Nanti istriku akan langsung menghubungiku.
Dalam langkah benakku tak berhenti berkata. Ini Jakarta, bukan Amsterdam. Tingkat kriminalnya tinggi, kasus pemerkosaan dan sex bebas sudah menjadi hal lumrah, dan yang paling aku takut Rafael harus kehilangan anaknya di tempat ini. Betapa malunya aku menjadi orang Indonesia, Jakarta tepatnya, kalau semua ini benar-benar terjadi. Astaghfirullah…
Sudah lebih 15 menit aku mencarinya, tapi tetap tiada hasil. Tiba-tiba istriku menelpon.
“Ayah, Karen sudah disini,” seketika kecemasan yang tadi mengusai, menguap. Hatiku lega.
Disana ada seseorang yang tidak kukenal. Kudekati perlahan, seorang pria berkulit hitam dengan kamera SLR tersangkut di lehernya. Refael, Ann, dan Rahman putraku juga sudah disana. Kupercapat langkahku menuju kesana.
“Tomas,” ujarnya tegas memperkenalkan diri padaku sambil menjabat tangan.
“Rasyid.” Mataku tertuju pada sebuah salib besi putih yang digantung di lehernya.
Aku tidak sempat berbicara banyak dengan Tomas, Ia lebih banyak berbicara dengan Karen. Lagipula kami semua harus segera kembali ke rumah. Tak lama lagi azan maghrib. Sebelum berpisah, Tomas sempat menyalamiku sekali lagi. Sehelai kartu nama diberikan pada Karen. Sepertinya Ia tertarik pada Karen, terlebih mereka punya pekerjaan yang sama, Jurnalis.
***
Seorang pemuda berkulit hitam membuka pintu lobi dan bergerak menuju meja resepsionis. Seorang bule cantik berkulit putih mulus—kusangka seumurannya juga—mengikuti di belakangnya.
“Selamat malam. Tolong berikan sebuah double room untuk kami,” sapanya dalam bahsa inggris yang lumayan.
Kubuka database hotel ini melalui seperangkat alat canggih yang di namakan komputer. Kusodorkan beberapa pilihan yang tersedia. Ia pun memilih dengan segera, tanpa terlalu mempertimbangkan. Sepertinya sudah kesetanan oleh nafsunya.
“Maaf, ada membawa surat nikah?” Ia kelihatan kalang kabut begitu pertanyaan itu kulemparkan. Ia berbisik pada ‘nyonyanya’ yang sedari tadi hanya melongok kesana kemari menunggu sang tuan berkulit hitam mendapatkan kunci sebuah kamar di hotel berbintang empat ini.
Sebelum ia angkat bicara lagi, aku segera menjelaskan. “Ada bayaran ekstra 50% untuk pasangan yang belum menikah atau yang tidak membawa surat nikah.” Sang tamu yang terhormat mengangguk setuju. Segera kuselesaikan registrasi mereka, lalu kuberikan sebuah kunci padanya.
Inilah Jakarta. Aku sungguh bangga menjadi rakyatnya. Pintu uang ada dimana-mana, asalkan berani mencoba. Perkara salah benar, itu nomor sekian. Yang penting dompetku tebal. Selamat bersenang-senang kawan. Terimah kasih atas ekstra 50%-nya. Semoga semakin banyak orang seperti kalian yang datang ke hotel ini ketika aku menjadi resepsionis, lumayan untuk jajan sekolah anak-anakku.
***
Tiga bulan kemudian.
Aku semakin tertekan dengan studiku. Tidak lama lagi Ujian Nasional menantiku dan anak-anak sebayaku yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Mungkin karena didikan orang tua untuk serius dalam pendidikan agar aku bisa seperti Ayah. Aku ingat kata-kata Ayah, kalau ingin melihat bangsa kita maju, jangan berharap orang lain yang melakukannya, harus kita sendiri yang melakukannya.
Aku sedang bergulat dengan angka-angka dan rumus matematika, tiba-tiba telepon di sebelahku berdering. Segera kuraih benda itu.
“Selamat malam. Saya Rafael. Tuan Rasyid ada?” kuserahkan telefon itu pada Ayah. Kulanjutkan belajarku, tapi telingaku tak bisa lepas dari percakapan di sebelahku. Ternyata bule yang tiga bulan lalu datang ke rumahku itu.
“Astaghfirullah” kalimat itu terlontar panjang setelah Ayah terdiam lama menyimak lawan bicaranya bercakap panjang. Wajah Ayah pun menunjukkan angin tak sedap. Sepertinya ada berita buruk. Kusimak setiap patah kata, ternyata memang benar. Intinya Karen, anak si bule telah kehilangan keperawanannya. Ayah terlihat begitu prihatin mendengar kejadian itu. Yang lebih parahnya, semua itu terjadi di Jakarta. Pasti ayah merasa sangat malu pada kerabatnya itu.
Kini aku semakin mengerti dengan Jakarta. Dulu kupikir betapa bangganya aku lahir dan dibesarkan di Jakarta, sebuah tanah Ibukota negara yang serba ada. Tempat dimana semua aktifitas besar berpusat dan semua hal berkembang dengan pesat. Tapi dibalik itu semua, ada jutaan noda hitam yang tersembunyi dibalik megahnya kota Jakarta.
***
Jakarta
Kubayar mahal kau untuk sebuah kunjungan
Tapi kau rampas hartaku yang paling berharga
***
Jakarta
Aku percaya kau memang surga
Kau siapkan seorang bidadari untukku disana
Untuk sebuah kepuasan seks dalam semalam

***
Jakarta
Kau memang fatamorgana yang menipu
Kupikir kau susu, tapi ternyata kau tuba
***
Jakarta
Mau kubawa kemana mukaku?
Kau permalukan aku di depan sahabatku
***
Jakarta
Inilah duniaku
Dimana uang bisa didapat dengan modal nyali berbelok ke kiri
***
Jakarta
Menjadi wargamu, aku tidak patut bangga
»»  READMORE...

Monday, November 17, 2008

OoooO D!a 0rang Jep@ng.....

0 comments
langit sudah mendung ketika aku turun dari putra LRT kelana jaya....seperti biasa pasar seni tak pernah sepi dari aktivitas manusia mencari sesuap nasi. aku sedikit berlari ketika gerimis terasa ketika membasahi kulitku....menuju perhentian bas, tapi sayangnya kakiku tak cukup pantas mengalahkan derasnya hujan turun, segera kucari tempat berteduh. Alhamdulillah ....gumamku akhirnya aku bisa berteduh juga dipasar budaya ini. walaupun tak sampai ke tempat tujuanku yaitu perhentian bas 30, bas yang akan menghantarku menuju rumah pak cik ku. tapi tak mengapa ini pun sudah oke....pikirku

jam ditanganku menunjukan 1.35, rencana untuk shalat dirumah akhirnya kuurungkan, aku segera berlari ketingkat atas untuk menuju mushola. bagiku tempat ini cukup familiar karna bukan satu atupun dua kali aku mengunjunginya, jadi aku lebih hafal tempat ini. seperti biasa pula pasar seni dengan berbagai kebudayaannya bukan saja dari malaysia bahkan kebudayaan dari Indonesiapun turut mewarnai tempat yang sering kali jadi kunjungan pelancong-pelancong asing.

aku melipat sajadahku sambil kulirik hujan yang turun diluar...."deras gumamku. aku terpaksa menunggu disurau hingga hujan sedikit reda. hanya ada aku, seorang mak cik yang cukup umur dan seorang gadis yang masih khusuk dalam shalatnya.....---tak kuhiraukan semuanya hanya senyuman kecil aku persembahkan pada mereka dan sekejap saja aku terlena dengan tilawahku....

tiba-tiba kurasakan seseorang mendekatiku...dia mengulurkan tangannya dengan senyuman dibibir kecilnya, pantas aku menyambutnya. dan seketika aku berhenti dari tilawahku..."gadis itu Cantik sekali"....Subhanallah......hatiku bergumam aku teringat seseorang...tapi siapa ya,yang jelas bukan orang malay, kucoba bongkar apa yang ada di minda ku ....sekali lagi apa ya...betul-betul aku lupa.

gadis itu mulai memulakan kata =======
Salamalaikum..are U malaysian? tanyanya............not I'M indonesian---tetap bangga jadi orang indonesia walaupun banyak orang yang mengira aku malaysian
perbincangan kami cukup lama dengan obrolan kesana kemari hingga hujan cukup reda dan cukup akrab dan akhirnya aku tahu kalau dia adalah orang jepang............ya japannes, aku hanya terkejut her english very fluent....bukannya kalau orang jepang ga suka bahasa enggrish *tak habis fikir... tapi teryata dia cukup lama tinggal di malay jadi sudah bs menyesuaikan.....

aku sedikit mempraktekan bahasa jepang ku dengan gadis yang kukira lebih muda dariku....teryata umurnya sudah mencecah 30...betul-betul baby face.

banyak pengalaman yang kudapat darinya....sampai rumah aku ingat teryata "yukira" mirip dengan hana ya hana di film heaven tree.....





»»  READMORE...

Sunday, November 16, 2008

Renungan jalan kehidupan

0 comments
aku meminta kekuatan....
dan Allah memberiku kesukaran untuk membuatku lebih kuat
aku meminta kesejahteraan dan kemakmuran....
dan Allah memberiku otak dan otot untuk berfikir dan bekerja
aku meminta kebijaksanaan dan kemandirian.....
dan Allah memberiku masalah untuk diselesaikan
aku meminta keberanian.....
dan Allah memberiku rintangan untuk diselesaikan
aku meminta cinta dn kasih sayang
dan Allah mempertemukanku dengan orang yang kesusahan untuk ditolong
aku meminta keadilan......
dan Allah memberiku perbedaan untuk diselesaikan dengan saling menghargai dan memberi
aku meminta kesuksesan dan kebaikan....
dan Allah memberiku kesempatan dan peluang
aku meminta kebahagian dan kedamaian jiwa.....
dan Allah memberiku kitab suci untuk resep kehidupan

Teryata aku tidak menerima apa yang aku minta
tetapi aku menerima apa aku perlukan

kini aku bersyukur dapat memahami makna hidup
hidup yang harus dilalui tanpa rasa takut berupaya dan berdoa
hadapilah rintangan dengan kesabaran dan berserah diri

hidup ditengah badai dan rintangan
hendaklah memiliki akar dan prinsip kehidupan yang benar
setiapa usaha kebaikan akan menemui jalan keluar

carilah hikmah disetiap peristiwa yang telah dilalui
raihlah sukses dengan kerja ikhlas, mawas,tuntas, selaras, kualitas...insyaAllah Allah meridhoi .....

ahsanunnadia
»»  READMORE...
0 comments
Hai...Rai
apa kabar dirimu sudah lama tak mendengar kabar darimu....aku berharap imammu masih seperti dulu....sekuat semangatmu.....menghafal ayat-ayat kalam Allah....satu demi satu, sehingga kamu fahami ayat demi ayat.....gmn hafalanmu sekarang? aku ingat ketika kamu berulang kali menghafal halaman yang sama...ustaz memarahimu berulang kali, tapi ketika itu aku yakin takan ada airmata yang mengalir. karna aku tau kamu seorang yang tegar. dipesantren impian kita, dipedalaman yang betul-betul terpencil yang tiada satu orangpun tau siapa kita. kita bertiga mewarnai hari-hari dengan ayat suci tak ada kata bosan ketika itu, kita begitu menikmati mimpi kita. kita bermimpi sama-sama menjadi "hafizah"

kamu ingat itu.....
kamu tau aku rindu suasana itu....

sahabatmu
Ismah


aku tersenyum ketika membaca emailmu sambil kuusap airmata yang mengalir dipipiku....kalau kamu tau akupun rindu...rindu sekali...lebih-lebih rindu pada diriku sendiri......aku malu ketika membaca emailmu sekaligus sedih, rasanya begitu futur diri ini. bahkan aku tak tau sejauh mana aku tertinggal darimu. pasti kamu sudah jauh melangkah dariku...karna suasana tempatmu yang mendukung, murajaah kepada syaih-syaih disana. kurasa kamu lebih nyaman disana sekarang.....

terimakasih sahabatku untuk mengingatkanku semoga Allah selalu menjaga persahabatan kita.....InsYaAllah mulai hari ini aku akan meneruskan impian itu.....
Kuatkanlah azamku ya Allah....

Ahsanunadia
»»  READMORE...

Thursday, June 5, 2008

MenGenang guruku.....Raihan

0 comments

Inalillahi waina ilaihi rojiun……

Sepagi ini kata – kata itu dah keluar dari lisanku……..tak disangka seawal ini pula beliau telah pergi meninggalkan kami tanpa melihat…merasakan…..bangga dengan kesuksesan kami…., betapapun itu semua ilmu yang telah engkau berikan sangatlah berarti bagi kami khususnya aku sendiri….belumlah sempat kami membalas jasamu….belumlah sempat kami mewujudkan impianmu, tapi Allah lebih menyayangimu……

“ ukhty …., ana baru dapat kabar Ustadzuna Raihan telah kembali ke rahmatullah pagi tadi jam 08.30” itulah SMS yang aku terima tadi pagi dari nurul di Egypt…..tak tau apa perasaanku waktu itu…..wajah ustadz begitu nyata dalam ingatanku yang begitu ikhlas mengajari kami pagi, siang dan malam…ketelatenanya yang membuat kami tek pernah hilang semangat untuk terus belajar walaupun ilmu kami masih bisa dibilang nol saat itu tapi dengan kegigihannya kami terus mencoba dan mencoba……..yang jelas suasana “ pesantren Impian” kembali dalam jiwaku….suasana yang tak pernah bisa aku lupakan hingga detik ini….bukan sekedar karna suasana persahabatan yang telah terjalin diantara kami…bukan juga karna cerita suka duka yang kami jalani ataupun kisah cinta yang menyedihkan…, tapi karna ketenangan jiwa yang tak pernah aku rasakan setenang saat itu walaupun akhirnya kami harus terbangun dari mimpi kami…..hari-hari kami selalu dihiasi dengan lantunan ayat suci alquran…..kefasihan lantunan ayat suci ustadz dan kelembutan murotal teh haji membuat kami merasa iri dengan pasangan sejoli ini……….

Ah…pesantren impianku apa kabarmu sekarang? Apakah kau masih setenang dulu ditengah persawahan yang begitu damai….sehingga apabila kami naik keatas rumah kami yang belum sempurna atau bisa disebut “bascam” kami, maka masjid Arrohman di puncak akan tampak begitu megahnya, jalan yang berliku-liku menuju puncak menggambarkan aktivitas para pendatang yang ingin melancong untuk menikmati liburannya…….

suasana pesantren impian tak pernah hangat walaupun sudah tengah hari sehingga membuat kami lebih memilih utuk bertengger di bascam sambil menghapal ayat-ayat suci yang ustadz lantunkan untuk kami ba’da subuh tadi….dipesantren ini hanya kami bertiga …aku, nurul dan ta2, satu kamar dan satu rumah dengan guru kami, guru yang ikhlas mengajarkan kami

walaupun begitu jasamu sell kukenang guruku........

to be cont......to pesantren Impianku

»»  READMORE...

Wednesday, February 27, 2008

untuk sahabatku seperjuangan...........

0 comments

Demi Alloh,waktu malam terasa begitu panjang bagiku jika aku teringat saudaraku seagama,lalu aku berharap segera tiba waktu pagi sehingga aku bisa memeluknya,karena kerinduanku kepadanya." - 'Umar bin Khoththob

Smalam kita jadi kawan karna kenangan silam ...hari ini kita masih berkawan ....karna janji semalam esok kita akan terus berkawan ... karna hari ini kita saling mendoakan hari-hari kemudian kita akan terus berkawan karna esok kita ada azamtapi andai esok tiada lagikita tetap kawan kawan selamanya dalam perjuangan islam

»»  READMORE...

Friday, September 21, 2007

9 mimpi Rasullulah

0 comments
Antara 9 Mimpi Nabi Muhammad SAWDaripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang - benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru k epada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya,maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.
»»  READMORE...

Wednesday, September 19, 2007

Ramadan Terakhir

0 comments
Dear All,

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir...
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu. ..kepada- NYA Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu solatmu kau kerjakan di awal waktu
solat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terlalu alunan Al-Quran bakal kau dendang...
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir tentu malammu engkau sibukkan dengan bertarawih.. .berqiamullail. ..bertahajjud. .. mengadu...merintih. ...meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan kita buru...kita cari...
suatu malam idaman yang lebih baik dari seribu bulan
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir mempersiap diri...rohani dan jasmani menanti-nanti jemputan Izrail di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami jadikanlah ia Ramadhan paling bererti... paling berseri... menerangi kegelapan hati kami menyeru ke jalan menuju redha serta kasih sayangMu Ya Ilahi semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti
Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah berusaha.... bersedia. ..meminta belas-NYA
»»  READMORE...

Friday, September 7, 2007

Dalam diri kita ada tanda kebesaran Allah

0 comments
"Dalam diri-diri kamu Ada tanda-tanda kebesaran Tuhan". lihatlah kedua telapak tangan Dan perhatikan garis-garis di telapak tangan Kita.Garisan- garisan di tangan kiri menunjukkan angka 8 Dan 1 dalam Bahasa Arab Dan tangan kanan 1 Dan 8 Dan membawa ke jumlah 81 + 18 = 99 iaitu bilangan nama Allah. Berikut adalah antara intipati secara ringkas:
1. Cara makan, kenapa Kita gunakan tangan?
- Mengikut cara Rasulullah s.a.w,beliau akan mengaduk lauk Dan nasi dengan tangan kanannya Dan kemudian membiarkan sebentar, lalu Rasullah saw akan mengambil sedikit garam menggunakan jari kecilnya (kelingking) Lalu Rasullah saw akan menghisap garam itu. Kemudian barulah Rasulullah makan nasi Dan lauknya. Mengapa? Kerana kedua belah tangan Kita Ada mengeluarkan 3 macam enzim,tetapi konsentrasi di tangan kanan kurang sedikit dari yg kiri. Ini adalah kerana enzim yg Ada di tangan kanan itu merupakan enzim yang dapat menolong proses digestion, ia merupakan the first process of digestion.Mengapa menghisap garam? Kerana garam adalah sumber mineral dari tanah yg diperlukan oleh badan Kita. Dua cecah garam dari jari Kita itu adalah sama dgn satu liter air mineral. Kita berasal dari tanah maka lumrahnya bahan yang asal dari bumi (tanah) inilah yg paling berkhasiat untuk Kita. Kenapa garam? Selain dari sebab Ia adalah sumber mineral, garam juga adalah penawar yang paling mujarab bagi keracunan mengikut Dr dihospital-hospital , the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi Sodium Chloride, iaitu GARAM. Garam juga dapat menghalang sihir Dan makhluk-makhluk halus yang ingin menggangu manusia.
2. Cara Rasulullah mengunyah - Rasulullah akan mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut Kita mudah memproseskan makanan itu.
3. Membaca Basmalah -(Bismillahirrahma Nirrahim). Membaca Basmalah sebelum makan untuk mengelakkan penyakit. Kerana bakteria Dan racun Ada membuat perjanjian dengan Allah swt, apabila Basmalah dibaca maka bakteria Dan racun akan musnah dari sumber makanan itu.
4. Cara Rasulullah minum. -Janganlah Kita minum berdiri walaupun ia makruh tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram. Jangan Kita minum dari gelas yg besar Dan jangan bernafas sedang Kita minum. Kerana apabila Kita minum dari gelas yg besar, otomatisnya Kita akan meneguk air Dan dalam proses minum itu, Kita tentu akan bernafas Dan menghembuskan nafas dari hidung Kita. Kerana apabila Kita hembus, Kita akan mengeluarkan CO2 iaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dgn air H20, akan menjadi H2CO3, iaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. Jangan meniup air yg panas, sebabnya sama diatas. Cara minum, seteguk bernafas, seteguk bernafas sehingga habis. Mengapa Islam menyuruh di sebat 100 kali orang belum berkahwin yang berzina, Dan merejam sehingga mati org yg sudah berkahwin yang berzina? Badan manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yg dapat melawan penyakit. Dan sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang, berdekatan dengan sum-sum tulang manusia. Lelaki yang belum berkahwin dia akan dapat mengeluarkan beribu-ribu sel ini, manakala lelaki yang sudah berkahwin hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini sehari, kerana antara sebabnya ialah karena sel-sel lain akan hilang kerana hubungan suami isteri. Jadi apabila lelaki yang belum berkahwin didapati salah kerana zina hendaklah disebat 100 kali. Ini adalah karena apabila dia disebat di belakangnya, suatu amaran tentang kesakitan itu akan membuatkan penghasilan beribu sel antibiotik yang dapat melawan virus HIV jika ia Ada di badannya, dengan itu dapatlah antibodi melawan virus HIV itu. Tetapi jika lelaki itu sudah berkahwin,walaupun disebat 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saja, jadi dengan itu hukumannya direjam hingga mati agar dia tidak dapat merebakkan virus HIV itu. dan tentang ka"bah Mengapa ia terletak di Mekah al-Mukarramah Dan mengapa ia empat persegi (cube). Ia terletak di posisinya sekarang karena setelah dibuat kajian oleh para cendikiawan dari Pakistan Dan Arab didapati tempat terletaknya Ka'bah sekarang itu, adalah betul-betul di tengah bumi. Mengapa ia empat persegi, ia melambangkan perpaduan ummah yang bergerak maju bersama, equality and unity, tidak seperti bentuk pyramid, dimana ia diumpamakan, seperti hanya seorang pemenang yg berada diatasi setelah ia memijak-mijak yang lain. Dan antara lagi sebab mengapa 4 persegi melambangkan 4 imam besar, Maliki, Hambali, Hanafi Dan Syafi'i, melambangkan kebenaran keempat-empat Imam tersebut. Sekian buat renungan bersama.............

dikutip dari syarahan guruku...
»»  READMORE...

Wednesday, August 29, 2007

cerita di senin petang

0 comments
Sore itu seperti biasanya aku menunggu waktu shat asar tiba, tepatnya di masjid ukm. Karna seperti biasanya selepas asar nant ada kelas tahsin qur'an di pusat islam masjid. Dan seperti biasanya pula aku akan bertemu dengan sahabat-sahabat yang lainnya, ada yang baru habis kelas,menunggu kelas ada juga yang sengaja ingin shalat berjamaah di masjid. boleh dikatakan banyak lah jamaah hari itu seperti biasa. Selain pelajar ada juga orang luar UKM yang singgah di masjid itu semata-mata untuk shalat. Dan diantaranya K'Ari dia dari indonesia, dia bukan pelajar UKM tapi pada hari itu memang kami sll bertemu di masjid UKM seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin dia sll ada urusan tapi aku tak pernah tanya apa, yang jelas suami dia memang seorang lecture( dosen) di fakulti kejuruteraan, ya fakulti yang cukup dekat dengan fakultiku.

Adzan pun berkumandang, para jamah siap-siap untuk shalat.aku masih melihat K"Ari terlena dengan tilawahnya. Aku sengaja tak menyapanya karna takut mengganggu. sampai iqomat di laungkan K'Ari menutup mushafnya kemudian memasukanya ke dalam beg hitam dia dan meletakan beg itu di depan shaf muslimat.kami berdiri di baris hadapan shaf dan aku sempat menyapanya dengan senyuman.
" Ada kelas tahsin ya" dia menyapaku
" ya Ka" aku menjawab ringkas karna imampun sudah bertakbir

Hari itu aku rasa cuaca tak sebaik biasanya karna walaupun panas tapi angin bertiup cukup kencang, di tambah kipas angin yang berada dalam masjid berputar kuat.sampai-sampai hijab antara muslimin dan muslimat terbuka oleh tiupanya yang kuat dan sebagian dari jamaah muslimat ada yang mask ke bahagian muslimin termasuk 3 beg muslimat.yang 1 milik pelajar yang dua milik 2 orang pengunjung UKM dan salah satunya adalah beg milik K'Ari.
Sampai sujud rakaat yang ketiga aku mersa tak berapa khusyu. Karena angin menjadikan hijab itu menutupi 3 beg yang tadinya ada di hadapanku.tapi aku tak berapa hiraukanya

Sampai rakaat terakhir dan salam. Aku dan jamaah yang lainya terus melihat keadaan beg tersebut dengan membuka hijabnya.karna beg itu berada di kawasan muslimin tapi apa yang terjadi.............?

Hanya ada satu beg yang tersisa yaitu beg pelajar UKM sedangkan 2 beg milik pengunjung UKM dah lenyap entah kemana?
Mak cik itu terus menangis karna ia menyadari beg dia tlah hilang sedangkan K' Ari aku tak tau dia kemana.suasana di masjid cukup hiruk pikuk karna mak cik tadi terus menangis mungkin banyak benda-benda yang berharga dalam handbeg dia.sementara K'Ari aku lihat di depan masjid tempat laki-laki.oya aku baru sadar dia bawa kereta tadi dan kuncinya ada dalam beg hitam dia, untungnya kereta dia masih ada.

Aku tak melihat kesedihan pada wajahnya hanya sesekali aku lihat dia mencari-cari, berharap pencuri itu tak lari jauh dari kawasan masjid, karna aku pun merasa saat rakaat ketiga beg itu masih ada walaupun sempat aku merasa ada orang berdiri di hadapanku tapi sedikitpun aku tak curiga, lagi[pun aku fikir ”tak mungkin di masjid ada pencuri” tapi nyatanya memang terjadi. aku menemaninya mengelilingi masjid sambil pandanganku tak lepas dari honda sivizy ka Ari, khawatir pencuri tu membawanya.
Aku sempat menghubungi handphone k’ari tapi mustahil pencuri itu angkat tapi memang masih boleh di hubungi sampai kali yang ke empat aku hubungi dia sudah off kan.

”K' ari sabar ya ini cobaan dari Allah” aku coba menenangkannya walaupun aku rasa itu tak berapa dia dengar karna matanya masih sibuk kesana kemari. ”K’ Ari dah mengikhlaskan semua habis mau di apain lagi jekaknya pun ga kecium” komentarnya.” hanya suami kaka pasti membebel di rumah. Aku hanya tersenyum. Aku coba menghubungi suaminya akhirnya ” uda aku dapat musibah ni handbagku ada yang curi!!! Uda datang cepatnya ke masjid ukm.aku berfikir O’ mungkin ’ Ari orang padang kali ........
tak selang 15 menit suaminya pun datang dengan satu kawannya. So akupun minta izin tak dapat menemaninya lagi karna aku tak boleh tinggalkan kelas tutorialku.




»»  READMORE...

Thursday, August 23, 2007

Buah hati riyadh

0 comments

tadi malam mujahidah comel menelponku dengan tangisanya yang kuat, sekarang teh dah ada temannya walaupun suaminya sibuk di KBRI, tapi yang jelas mereka gembira sekarang ini. kakaku baru melahirkan baby pertamanya di hospital riyadh, aku jadi cepet2 ketemu dia, mungkin lebaran haji kali ya kita ketemu sayang..............
»»  READMORE...

Hari merdeka di KBRI

0 comments
"17 agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita........................"
lagu itu.... hanya sayup2 terdengar di sini, tak ada upacara atau perayaan seperti layaknya hari merdeka negara yang lain sekalipun di KBRI, mungkin karena jatuhnya hari jum'at jadi agak susah juga ngerayainnya tapi apapun itu bukan perayaannya aja yang harus semangat tapi diri kita sebagai warganegara indonesia dah merdeka belum....???????
2 hari setelah merdeka kami dari PPI UKM berkunjung ke KBRI karna dari bagian keputrian kita punya program yang khusus untuk para TKI yang bermasalah hampir setiap minggunya. ya.. sekedar kasih semangat buat mereka walaupun tak banyak setidaknya kedatangan kami mereka sambut dengan hangat. kami mengadakan beberapa perlombaan yang berkaitan dengan kemerdekaan seperti lomba menyanyi kemerdekaan perkelompok selain itu kami juga mengadakan lomba hafazan alquran surat2 pendek. wah memang tak sia-sia kedatangan kami kali ini mereka begitu antusias dan semangat sekali, kami boleh menangkap dari wajah2 mereka yang walaupun begitu banyak derita yang mereka alami tapi mereka bergembira saat itu. salah satunya Mba' ceriyati.

aku sendiri berfikir....!!!
salah siapakah semua ini? batinku tersayat ketika mendengar cerita-cerita mereka selama mereka masih menjadi TKI. ada penyiksaan, penganiyaan dan banyak lagi cerita2 mereka tu.majikan terlalu kejam atau mereka sendiri yang kurang pendidikan? sesekali aku coba mengeluarkan saran yang menurutku lumrah dikeluarkan semua orang. apa sebaiknya ga kerja di negara sendiri? pasti alasanya sempitnya lapangan pekerjaan. ah aku rasa perkara ini ga ada habis2nya dari dulu.
aku hanya bisa doain mereka supaya cepat kembali ke kampung masing-masing dengan selamat dan agar berkurang orang-orang yang bernasib seperti mereka.............
wallahu a'lam
»»  READMORE...

Episode Cinta untuk syeikh

0 comments
"Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina"

(Nushus Arab)


Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya.
Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama:
Rahmat Abdullah.

Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi percayakah kau, aku
menjadikanmu salah satu teladan diri. Kau menjelma salah satu sosok yang
kucinta. Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah
membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu dan pikiranku.
Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!

Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan pernah melupakannya.
Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu.
Aku dan seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan
terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan
senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan
bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk
kami. Dengan riang kau menyemangati kami.

"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu. "Bismillah. Berjuanglah dengan pena- pena itu!" Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami.
Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami
tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.

Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum Lingkar Pena.
Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan. Aku masih
sempat bertanya pada panitia: "Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak
Rahmat Abdullah?"
Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga
untuk menjemput.

Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadir di acara
seperti ini.

Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan
taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau
muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka...," sambutku. Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang," katamu. "Ini acara FLP.
Istimewa."

Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagai
pembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional. Dan kini ia sudi
hadir sebagai undangan biasa!

"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"

Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.

Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa
penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau
berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para
pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena....

Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan
menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan "Sastra untuk Kemanusiaan." "Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.

Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami. Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga.
Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i. Dan ketika kau terpilih menjadi anggota
DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih
keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak
berhenti memberi zakat dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang
pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk
menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada. Kau bahkan
pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah
dari hamba Allah yang lemah ini."

Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun
lalu. Dan aku tak percaya, kau-anggota dewan yang terhormat--- masih saja
menyetop kopaja.
Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya. Ribuan orang, tak
terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti
bersaksi tentang keindahanmu.

Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuh di
dunia, semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin.

(Helvy Tiana Rosa)
»»  READMORE...

Monday, August 20, 2007

Bahagia dan celaka

0 comments
Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah :Ketika ilmu pengetahuannya bertambah, maka bertambah pula kerendahan hati dan rasa kasih sayangnya.Ketika bertambah amal-amalnya, semakin bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam melaksanakan perintah Allah.Ketika bertambah usia, maka semakin berkurang semua ambisi-ambisi keduniawiannya.Ketika harta bertambah, maka bertambah pula sifat kedermawanannya.Ketika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, maka bertambahlah pula kedekatan dirinya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka.Sebaliknya, ciri-ciri seorang hamba yang celaka adalah :Ketika ilmu bertambah, maka semakin bertambah kesombongannya.Ketika bertambah amalannya, maka makin bertambah kebanggaan kepada dirinya sendiri dan penghinaan kepada orang lain.Ketika semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya.(Al Fawaid, Imam Ibnul Qoyyim)
»»  READMORE...

Sunday, August 19, 2007

D! Atas sAjadaH c!nT@

0 comments
Kota Kufah terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegak menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teduh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya zahid?atau si Ahli Zuhud? karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan dan paling mencintai masjid di Kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota itu. Saat itu masjid adalah pusat pendidikan, peradaban, informasi dan perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat-ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala di hadapannya. Namun jika sampai pada ayat-ayat nikmat dan syurga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur seluruh tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surah Asy-Syams, ia menangis,
fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
Qad aflaha man zakkaaha
Wa qad khaaba man dassaaha
...
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan merugilah orang yang mengotorinya
...)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah ia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya? Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk orang yang beruntung ataukah yang merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
***
sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari dengan riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar dari 3 lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh mempesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair cinta.
in kuntu asyiqatul lail fa ka si
musyriqun bi dhau?
wal hubb al wariq
...?
(jika aku pecinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar
...)
Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orang tuanya menyunggingkan senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata,
Abu Afirah, puteri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair yang ia dendangkan.?
ya, itu syair cinta. Memang sudah saatnya ia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.?
bagaimana, kau terima atau...?
ya jelas langsung aku terima. Dia kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang menolong kita dahulu waktu kesusahan. Di samping itu Yasir gagah dan tampan.?
tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu??
tak perlu! Tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.?
tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.?
oh, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti akan tobat! Yang penting dia kaya raya.?
***
Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah tidak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya, seorang penari melenggak lenggokkkan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
ayo bangun Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!?Bisik temannya
he...benarkah??
benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini!?
baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.?
Yasir bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari diiringi irama gendang dan seruling. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ke telinga Yasir,
apakah anda punya waktu malam ini bersamaku??
Yasir tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
***
Keesokan harinya.
Usai sholat dhuha, zahid meninggalkan mesjid menuju pinggiran kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berdzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel untuk saudaranya yang sakit tersebut.
Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu terus mendekat dan membesar. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang yang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya mendengar suara?
tolooong...tolooong!!?
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu makin jelas.
Suara minta tolong itu makin jelas juga. Suara seorang perempuan. Dan matanya bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
tolooong! Tolooong hentikan kuda ini! Ia tak bisa dikendalikan!?
Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu makin dekat dan tinggal beberapa meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat, ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,
hai kuda makhluk ALLAH, berhentilah dengan izin ALLAH!?
bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada di punggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekat dan menyapanya,
Assalamualaiki. Kau tidak apa-apa??
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan?
AlhamduliLlah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.?
Syukurlah kalau begitu.?
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik dan mempesona.
tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama tuan, dari mana dan mau ke mana tuan??
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih di depannya. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah pertama kalinya ia menatap gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona. Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. 擨nna liLlah. AstaghfiruLlah,?gemuruh hatinya.
namaku Zahid. Aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.?
jadi kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya Cuma di dalam masjid??
tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.?kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
tunggu dulu tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!?
aku mau melanjutkan perjalananku!?
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zaid. Terang saja Zaid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silahkan datang ke rumahku. Ayahku pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.?
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.
tidak usah.?
terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!?
Terpaksa Zaid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.
***
Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang tentang keshalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengar tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,
inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Robbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Robbi, izinkanlah aku mencintainya.?
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.?
Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matannya.
***
Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat se-khusyu?nya namun usaha itu sia-sia.
ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha Tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan Cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya. Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.?Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segenap keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan menghiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu makin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan adzab-Nya. Rasa cinta dan rindunya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangan. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya, ia kembali pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belum shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah, bercengkrama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah, maka berilah kekuatan.?
Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Dalam sujudnya ia berdo抋,
ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan syurga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murka-Mu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggungnya. Amin. Ilahi, hamba mohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu dan ridha-Mu. Amin.?
***
Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu rumah Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orang tua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketaqwaannya seantero penjuru kota. Afirah keluar sekejap untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala, ia pasrah dengan jawaban yang akan ia terima. Lalu terdengar jawaban ayah Afirah,
anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar oleh Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.?
Zahid hanya mampu menganggukkan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.
***
Zahid kembali ke mesjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketaqwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istighfar dan ... Afirah.
Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telingan Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,
------------------------------------------------------------------- Kepada Zahid,
Assalamualaikum,
Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau, aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau, kau datanglah ke kamarku, aku akan tunjukkan jalan dan waktunya.
Wassalam.
Afirah -------------------------------------------------------------------
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis balasan untuk Afirah:
------------------------------------------------------------------- Kepada Afirah,
Salamullahialaiki,
Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah 扐zza Wa Jalla. Inilah yang kudamba. Dan aku kau ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret pada kenistaan dosa dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari syurga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, 擨nni akhaafu in 抋shaitu Rabbi adzaaba yaumin Adhim!?Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabbku. Az-Zumar:13)
Afirah,
Jika kita terus bertaqwa, Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firman-Nya:
Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu syurga).?
karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha menjaga kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allah-lah yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Wassalam.
Zahid -------------------------------------------------------------------
Begitu membaca jawaban Zahid itu, Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda shaleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamour. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat di mana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa, malam ia habiskan dengan munajat kepada Tuhannya. Di atas sajadah putih itu ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah:
------------------------------------------------------------------- Kepada Zahid,
Assalamualaikum,
Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah RasuluLlah SAW secepatnya.
Wassalam,
Afirah -------------------------------------------------------------------
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab Masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran di dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan AlhamduliLlah.
***
»»  READMORE...
 

::....mEngGapAiRidhAiLaHi..::: hanya sebuah coretan kecil dari berlembar-lembar cerita yang kulalui Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template