Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Wednesday, December 16, 2009

Secangkir Kopi O Suam Untuk Atu Yusuf

0 comments
Cerpen ini karya adikq yang beberapa waktu lalu pernah datang mengunjungiku.....
Secangkir Kopi O Suam Untuk Atu Yusuf
Oleh : fauzi Abdul Halim


Kedai makan Emakku tak pernah sepi oleh pembeli. Selalunya ramai setiap hari. Apalagi kalau musim liburan sekolah dan cuti para pekerja datang, Emakku tak pernah punya waktu luang untuk beristirahat karena pembeli tidak henti-hentinya silih berganti berdatangan. Terkadang Emak kelabakan karena tak ada yang membantu. Sesekali terdengar teriakan Emak dari arah kedai “ Iman, ka sini! Bantulah Emak ni”. Akulah satu-satunya yang Emak andalkan. Pagi-pagi buta sudah harus membuka kedai, merapihkan meja dan kursi, dan menyiapkan segala yang Emak butuhkan. Karena terlambat sedikit saja, para pelanggan lenggang mencari kedai lain.
Negri Selangor sangat khas dengan nasi lemaknya, dan nasi lemak yang paling terkenal lezatnya yaitu di kawasan Pandan Indah yang merupakan jantung negri selangor. Di situlah kedai makan Emakku berada. Di tengah hiruk pikuknya manusia mulai memburu nasib mengejar hidup di pagi hari. Banyak mereka yang sengaja singgah hanya untuk menikmati nasi lemak racikan Emakku. Karena selain tempatnya strategis, nasi lemak buatan Emakku berbeda dengan nasi lemak yang di jual di tempat lain. Begitulah pengakuan sebagian orang banyak. Bahkan kedai-kedai mama yang menjual roti canai isi kari ayam, nasi kerabu, laksa, nasi briyani, tomyam melayu dan termasuk nasi lemak tak mampu menyihir orang yang tinggal di plat India yang letaknya cukup jauh dari komplek Pandan Indah. Padahal mereka harus berjuang melawan berbagai aroma masakan dari arah restoran mama ketika mereka melewatinya menuju kedai Emakku.


Tetapi selalu ada kaum minoritas di balik semuanya. Sekian banyak dari para penikmat nasi lemak Emakku, ada juga sebagian dari mereka yang duduk-duduk di kedai saja sambil menikmati secangkir kopi, mengobrol, terbahak-bahak tertawa karena sesuatu yang mereka anggap lucu bukan karena apa yang mereka obrolkan tetapi bagaimana cara mereka mengkomunikasikannya. Itulah subetnik yang ada di sekelilingku. Atu Yusuf yang aku kenal diantara mereka. Kakek tua yang selalu mengayuh kakinya setiap pagi demi menikmati secangkir kopi di kedai Emak. Masih tetap gagah walaupun usia menenggelamkannya. Rambut uban yang menghiasi kepalanya tidak pernah menggoyahkan langkah-langkahnya. Dan terlihat penampilanya yang casual menunjukan bahwa dia adalah seorang Elthon John yang menyanyikan “ I want love” untuk wanita-wanita melayu. Idealis memang. Lebih idealis untuk seorang Anak muda. Atu Yusuflah berjiwa anak muda yang terperangkap dalam tubuh Kakek tua. Ada yang paling aku suka dari pribadinya. Humoris. Gelak tawa yang membuatku terpancing untuk ikut tertawa. Jelasnya,dia piawai sekali dalam berbicara. Pembicaraan yang seru. Tetapi masih dalam satu tema. Yaitu bercerita. Setiap kali ia duduk di kedai ada saja yang ia ceritakan padaku.
“ Awak tak tau ke, Atu ni dulu pelakon terkenal. P. Ramlee yang pak belalang tu kawan atu dulu”. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala saja tanda setuju. Pagi ini tetap sama seperti kemarin. Ribuan burung gagak bertengger di batang pokok angsana berkoak bersahutan, para siswa darjah satu sampai enam yang menunggu bis jemputan sekolah, para pekerja yang berdesakan di transit rapid KL, KLCC yang menjulang kokoh berselimut mentari pagi, hilir mudik taksi tempatan, semuanya menciptakan irama kehidupan Negri Selangor Pandan Indah yang tak pernah sepi. Semunya masih tetap sama. Seperti Atu Yusuf yang datang hari ini ke Kedai. Lenggang kaki sepatu pantopelnya, baju askar yang selalu menempel di tubuhnya, rokok salem yang tak pernah lepas dari mulutnya, menjadi pemandangan yang tak asing bagiku. Sambil duduk berpangku kaki dia mulai mengetuk-ketukan jarinya di atas meja. Tak lama kemudian Atu melambaikan tangannya.

“Hoi…! Macam mana kabar semuanye pagi ni.”atu menyapa semua orang yang ada di kedai. Kami hanya tersenyum, sebagian ada yang acuh dan menggelengkan kepala.
Dan tak lama dia mengangkat tangan kedua kalinya, menyatukan ujung ibu jari dan telunjuk sehingga membentuk huruf O. dan memanggilku. “ Iman, macam biasa ya”. Matanya berkedip sambil tersenyum manis. Begitulah jika ia memesan kopi. Kopi O suam. Kopi hangat tanpa susu. Aku segera mengantar kopi pavoritnya itu ke meja di mana ia duduk.“ Atu pesan ini ke ?”. Aku menarik punggung kursi yang menghadap kearahnya. Kemudian duduk menemaninya.
“ budak pandailah kau ni. Tanpa Atu cakap nak pesan apa, kau dah hantarkan kopi ni ”.dia mengaduk kopi yang aku buat dan meneguknya layaknya segelas air putih. Kemudian kembali menyalakan rokok salemnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia menahannya di dalam dada. Seolah ada nikmat yang maha dahsyat. Aku yakin jika dirontgen maka rongga dadanya dan seluruh isinya berwarna hitam. Kakek ini cerdik juga pintar bukan hanya bercerita. Tapi aku tak habis pikir bagaimana dia bisa tertipu dalam persoalan rokok ini. Dan tak lama dia hembuskan asap rokok tadi.
“ hari ini atu punya cerita yang bagus. Kau mau dengarkan kisah tentang abu nawas tidak ?”
“ ya…ya.Atu. saya mau sekali”. Aku sangat bersemangat setiap kali dia mulai bercerita. Ini akan menambah properti kamus wawasanku yang mungkin nanti aku wariskan kepada anak cucuku.
Akhirnya atu yusuf mulai bercerita. Mengukir mozaik kata dalam memoriku, membuka kotak khayalku sehingga semuanya begitu deskriptif. Cerita abu nawas bukan baru pertama kali ini aku dengar. Berbeda sekali ketika atu Yusuf yang menceritakannya.
“ Abu Nawas bingung bagaimana caranya untuk bisa menangkap angin. Dan dia juga bingung bagaimana cara dia membuktikan kepada raja bahwa yang dia tangkap adalah angin”. Intonasinya begitu pasti. Pelan penuh penghayatan. Memaku tubuhku yang rasa pukau mendengarkan cerita.
“ Akhirnya Abu Nawas mendapat petunjuk, dan dia putuskan untuk menemui Raja keesokan harinya”. Aku begitu khidmat mendengarkan bait demi bait kata yang dia ucapkan pada klimaks cerita. Aku tersihir oleh aura linguistik yang keluar dari baham kakek tua itu. Dan seperti biasa, ending cerita yang membuat aku tertawa terpingkal berhasil dia lakukan. Atu pun sudah tak bisa lagi menahan tawanya. Beliau terpingkal-pingkal tertawa sampai keluar air matanya. Makin lama tawanya makin keras sekali. Kami sering sekali tenggelam dalam tawa.
“ tak terasa matahari sudah berada pada tonggaknya. Panas terik merambah membakar seantero jagat Negri menara kembar. Atu bangkit dari duduknya . Pertanda waktu kunjungnya sudah habis. Dia merogo kantong celananya. Mengambil uang dua ringgit dari dompet lusuhnya dan menaruhnya di bawah cankir kopi.
“ kembalilah ke sini besok. Saya ingin mendengarkan cerita Atu yang lainya. Atu nggak usah khawatir deh nanti saya buatkan kopi spesial buat atu. Gratis lagi.”
“ Ye ke ?”.
“ Ya, betul. Iman janji deh”.
Dia berjalan meninggalkan kedai. Langkah demi langkahnya ku pandangi sampai bayangannya berbaur dengan fatamorgana. Seperti layaknya angin, Atu Yusuf hilang dari pandangan.
* * *

Ku pandangi ujung jalan yang biasa atu yusuf lewati. Sudah dua jam berlalu dari jadwalnya, atu yusuf belum muncul juga. Tak biasanya dia molor hari ini. Aku tahu benar dia tipikal orang yang tidak akan menelan ludahnya sendiri. Teman-teman duduknya sudah berkumpul di kedai Emak seperti biasa. Hanya atu yusuf saja yang belum nampak di antara mereka. Apa mungkin ada yang lebih penting yang harus dia kerjakan hari ini?.ku hilangkan semua keraguan yang berkelebat dalam pikiranku. Ku dekati teman-temannya.
“pak cik, kenapa atu’ Yusuf tidak kelihatan hari ini?”. Aku bertanya kepada Pak Cik Mansyur salah satu teman berkumpul Atu Yusuf.

“ memangnya kamu belum tau man. Dia sedang sakit sekarang. Kemarin Sepulang dari sini para tetangga melihat dia terjatuh pingsan di depan pintu rumahnya. Kasihan kakek tua itu”.
Aku sangat kaget mendengarnya. Tidak pernah aku melihat atu’ Yusuf mengeluh. Apalagi soal sakit. “ Sakit apa dia pak cik ?”. “tak tau sakit apa Atu Yusuf tuh. Kata tetangga yang mememukannya kemarin, dari mulutnya keluar darah banyak sekali.kasian Atu Yusuf”. Sekali lagi pak cik Mansyur hanya bisa mengiba saja.


Ternyata rongga paru-paru atu yusuf sudah tidak mampu lagi berjuang melawan asap rokok yang bersarang di dalam dadanya dan asap sialan itu telah mengumumkan bahwa dialah pemenangnya sekarang. Aku putuskan untuk untuk melihat keadaan kakek malang itu sekarang sambil membawa segelas kopi yang sudah aku janjikan kemarin. Aku melewati satu-satunya jalan yang menghubungkan kedai Emakku dengan rumah Atu Yusuf. Sampai tibalah aku di sebuah pintu tua yang di lapisi terali besi. Kemudian ku masuki ruangan kamar tiga setengah kali empat meter persegi yang klaustrofobis. Hening tak bergeming. Masih ku pegang erat secangkir kopi untuknya. Beberapa orang pun ada di sana menyaksikan kakek tua yang tertidur membaring membeku dalam ranjangnya. Kedua pelupuk matanya tertutup rapat. Kedua tangannya melipat ke dadanya.Sehelai kain kafan siap di tutupkan ke wajahnya. Aku segera mengerti bahwa aku sudah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Ia meninggal. Kakek tua itu sudah menutup buku ceritanya. Menghapus sejarah hitam putihnya. Sekarang kakek tua itu hanya tinggal cerita yang meninggalkan ribuan cerita. Tak ada lagi langkah-langkah kokoh yang selalu menapaki jalan berduri penuh liku, tak ada lagi tawa riang penuh Simfoni, tak ada lagi secangkir kopi hangat untuk dinikmati. Semuanya hanya tinggal kenangan di pagi hari. Kuletakan secangkir kopi O suam di atas meja di samping di mana ia berbaring. Masih hangat. Sehangat sinar mentari yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang menyinari wajahnya yang pucat pasi. Tapi tersenyum.


Cerpen ini saya persembahkan
untuk keluarga di malaysia
Saya rindu kalian berdua
Saya rindu selangor



»»  READMORE...

Friday, December 26, 2008

0 comments
Novel ini karya Akhyar....untuk perlombaan cerpen di Jakarta

Sudah lama aku ingin datang ke tanah jajahan nenek moyang kami ini. Dari cerita-cerita yang kudengar, katanya negara itu seperti sepetak tanah yang ditanami pohon uang, sangat kaya. Tapi bukan itu fackor utama yang merayu minatku untuk bertualang hingga kesini, melainkan iklim tropisnya yang membuatku dan kebanyakan orang eropa ingin berwisata ke negara yang lazim disebut Indonesia ini.
Di bandara Soekarno Hatta, seturunku dari pesawat, aku terdiam sejenak. Kubiarkan bola mataku meliar memandangi belahan dunia yang satu ini. Setelah lebih 14 jam jasadku terkurung di dalam pesawat yang suhu udaranya nyaris membekukan sekujur tubuhku, kini kunikmati cahaya matahari terik menjilat kulit putihku dan angin segar memainkan rambut ikal pirang sebahuku. Aku seperti sedang merasakan percikan suasana surga yang selama ini kudambakan. Nikmat sekali. Lamunanku buyar ketika Ann, istriku, meneriakkan namaku. Ternyata ia dan putriku tunggalku ,Karen, sudah jauh disana. Terlihat tawa ringan mereka yang lepas. Entah karena mereka merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan, atau menertawakan kelakuanku yang seperti seekor burung baru dilepaskan dari sangkarnya. Terserah.
Di bandara, Rasyid sudah menunggu kedatangan kami sekeluarga. Rasyid teman kuliahku di Wageningen University . Ia muslim yang baik, ramah, dan kocak. Kami sempat bercerita banyak. Mengulas kembali memori-memori lama semasa kami masih kuliah dan tinggal 1 flat. Satu yang paling aku suka darinya, ia tidak pernah tertawa dengan lelucon yang ia buat, padahal aku dan teman-teman yang lain sudah nyaris terkencing karena tertawa oleh lelucon orang Indonesia ini.
“Rafael, berapa kali road block selama di pesawat?” gumamnya pelan dalam bahasa inggris yang tak lepas dari logat Jawa yang kental, disartai senyum tipis di wajahnya tanpa mengurangi konsentrasi mengendarai mobil.
Istri dan anakku juga menilainya seperti itu. Kocak tapi tidak kurang ajar. Di dalam mobil BMW-nya suasana begitu hangat dan ceria sepanjang perjalanan ke rumahnya sore itu.
Sesampai di rumahnya kami disambut hangat oleh keluarganya. Istrinya juga begitu sopan dan ramah. Aku tidak menjabat tangannya mengingat salah satu cerita yang pernah disampaikan beberapa waktu silam bahwa lelaki atau wanita muslim tidak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan keluarga dekatnya. Sepasang anak remajanya juga tak kalah ramah. Bahasa Inggris mereka bagus. Malam pertamaku berada di Jakarta begitu berkesan. Aku mulai menaruh hati pada negara ini. Dan orang-orangnya.
***
Jakarta ternyata jauh lebih spektakuler adri apa yang pernah terbayang di benakku selama ini. Apa yang kulihat di TV hanyalah potongan-potongan kecil dari Jakarta yang sebenarnya. Setelah 24 tahun tersekat di dalam suramnya dunia yang terlihat dari negaraku, akhirnya aku dapat melangkahkan kaki ke ‘mantan’ ibukota negaraku yang lama, Indonesia. Kalau bukan karena menjadi seorang fotografer sebuah majalah, kurasa aku tidak akan pernah menginjak kota metropolitan ini. Hayalku bermain sejenak ketika aku berdiri di depan Tugu Monas yang kurus tinggi menjulang menusuk awan. Pantas saja Indonesia memilih untuk melepaskan Timor Timur, tanah kelahiranku itu terlalu jauh dari kemewahan dan dan keluarbiasaan yang tengah kunikmati sekarang. Pikirku sepintas lalu.
Lamunanku terpecah ketika sekumpulan orang –sepertinya terdiri dari dua keluarga—melintas tidak jauh dari tempat aku dan tripod kamera SLR-ku berdiri. Empat orang tempatan—sepertinya—dan tiga orang bule. Salah sorang bule perempuan, kusangka ia seumuranku, menyandang kamera SLR juga. Sepertinya dia fotografer atau orang yang menyukai fotografi. Bukan kameranya yang menarik biji mataku hingga melirik lama mengikuti arah perginya, tapi si empunya yang benar-benar menggoda. Cantik, seksi, nyaris sempurna. Kulemparkan senyum ramah ketika ia balas memandangku. Ia sadar sedang kuperhatikan.
Ciiss…
Ia membalas senyumku. Segera kukemasi tripod dan peralatan yang sedari tadi tengah kugunakan untuk menangkap beberapa foto pemandangan dan aktifitas di sekitar Tugu Monas. Kuurungkan niatku menuggu senja di sini. Ada yang lebih menarik dari sekedar tugu korek api sialan ini. Ternyata Jakarta punya banyak pesona dibalik kepadatan penduduk dan pendatangnya. Jakarta memang indah untuk dinikmati.
***
Jakarta rasanya terlalu sulit untuk kulupakan. Bukan saja tempat dan suasanyanya yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannku, tapi orang-orang yang yang kutemui juga. Unik. Dari Tuan Rasyid teman ayahku, kemudian anggota keluarganya, dan pria tadi. Tadi ketika ayah, ibu, dan Tuan Rasyid sekeluarga bersepakat untuk melepas lelah di salah satu sudut taman di sekitar monument nasional Indonesia itu, aku memilih untuk memisahkan diri. Alasannya berkeliling sambil mengambil beberapa foto di sekitar sini. Padahal bukan itu yang kuincar, melainkan seorang lelaki yang melemparkan senyum kepadaku beberapa saat lalu. Sang fotografer berkulit hitam.
Lelah otot mataku bergerak, mencari keberadaan pria berkulit hitam itu. Kulanjutkan langkahku menuju kerumunan orang di sudut yang lain, berharap akan menemukannya. “Kemana dia?” gumamku dalam hati. Sesekali kutoleh juga ke belakang, namun sosok yang kucari belum kelihatan. Aku berdiri sejenak. Aku tahu dia sedang memperhatikanku. Kukeraskan tubuhku, kupejamkan mataku, lalu kumainkan perasaanku. Ada bunyi langkah yang mendekatiku. Di belakang. Agak tergesa, namun tiba-tiba berhenti. Benar, itu dia. Kupalingkan kepalaku ke arahnya sambil membuka mata dan melepas tawa ringan. Melalui sebuah lensa kamera SLR, sang fotografer berkulit hitam mengekerku.
Click… Dapat.
***
Pikiranku sudah mulai tak nyaman. Beberapa firasat muncul di benakku. Sudah lebih setengah jam kami ditinggalkannya, tapi ia belum kembali juga.
“Biarkan Karen menikmati kota Jakarta untuk sesaat…” Aku tak tahu apa Rafael benar-benar bertidak takut akan anaknya yang tak kunjung kembali, atau hanya menghibur diri. Dari raut wajahnya, Ann , sudah terlihat sedikit risau. Matanya sudah mulai liar menerawang, seperti ayam betina yang kehilangan anaknya.
“Lebih baik kita mencarinya. Hari sudah menjelang senja.” Usulku disambut tanpa bantahan. Semua beredar. Istri dan putriku kuperintahkan tetap di tempat. Yang lain kuminta langsung kembali ke tempat ini begitu menemukan Karen. Nanti istriku akan langsung menghubungiku.
Dalam langkah benakku tak berhenti berkata. Ini Jakarta, bukan Amsterdam. Tingkat kriminalnya tinggi, kasus pemerkosaan dan sex bebas sudah menjadi hal lumrah, dan yang paling aku takut Rafael harus kehilangan anaknya di tempat ini. Betapa malunya aku menjadi orang Indonesia, Jakarta tepatnya, kalau semua ini benar-benar terjadi. Astaghfirullah…
Sudah lebih 15 menit aku mencarinya, tapi tetap tiada hasil. Tiba-tiba istriku menelpon.
“Ayah, Karen sudah disini,” seketika kecemasan yang tadi mengusai, menguap. Hatiku lega.
Disana ada seseorang yang tidak kukenal. Kudekati perlahan, seorang pria berkulit hitam dengan kamera SLR tersangkut di lehernya. Refael, Ann, dan Rahman putraku juga sudah disana. Kupercapat langkahku menuju kesana.
“Tomas,” ujarnya tegas memperkenalkan diri padaku sambil menjabat tangan.
“Rasyid.” Mataku tertuju pada sebuah salib besi putih yang digantung di lehernya.
Aku tidak sempat berbicara banyak dengan Tomas, Ia lebih banyak berbicara dengan Karen. Lagipula kami semua harus segera kembali ke rumah. Tak lama lagi azan maghrib. Sebelum berpisah, Tomas sempat menyalamiku sekali lagi. Sehelai kartu nama diberikan pada Karen. Sepertinya Ia tertarik pada Karen, terlebih mereka punya pekerjaan yang sama, Jurnalis.
***
Seorang pemuda berkulit hitam membuka pintu lobi dan bergerak menuju meja resepsionis. Seorang bule cantik berkulit putih mulus—kusangka seumurannya juga—mengikuti di belakangnya.
“Selamat malam. Tolong berikan sebuah double room untuk kami,” sapanya dalam bahsa inggris yang lumayan.
Kubuka database hotel ini melalui seperangkat alat canggih yang di namakan komputer. Kusodorkan beberapa pilihan yang tersedia. Ia pun memilih dengan segera, tanpa terlalu mempertimbangkan. Sepertinya sudah kesetanan oleh nafsunya.
“Maaf, ada membawa surat nikah?” Ia kelihatan kalang kabut begitu pertanyaan itu kulemparkan. Ia berbisik pada ‘nyonyanya’ yang sedari tadi hanya melongok kesana kemari menunggu sang tuan berkulit hitam mendapatkan kunci sebuah kamar di hotel berbintang empat ini.
Sebelum ia angkat bicara lagi, aku segera menjelaskan. “Ada bayaran ekstra 50% untuk pasangan yang belum menikah atau yang tidak membawa surat nikah.” Sang tamu yang terhormat mengangguk setuju. Segera kuselesaikan registrasi mereka, lalu kuberikan sebuah kunci padanya.
Inilah Jakarta. Aku sungguh bangga menjadi rakyatnya. Pintu uang ada dimana-mana, asalkan berani mencoba. Perkara salah benar, itu nomor sekian. Yang penting dompetku tebal. Selamat bersenang-senang kawan. Terimah kasih atas ekstra 50%-nya. Semoga semakin banyak orang seperti kalian yang datang ke hotel ini ketika aku menjadi resepsionis, lumayan untuk jajan sekolah anak-anakku.
***
Tiga bulan kemudian.
Aku semakin tertekan dengan studiku. Tidak lama lagi Ujian Nasional menantiku dan anak-anak sebayaku yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Mungkin karena didikan orang tua untuk serius dalam pendidikan agar aku bisa seperti Ayah. Aku ingat kata-kata Ayah, kalau ingin melihat bangsa kita maju, jangan berharap orang lain yang melakukannya, harus kita sendiri yang melakukannya.
Aku sedang bergulat dengan angka-angka dan rumus matematika, tiba-tiba telepon di sebelahku berdering. Segera kuraih benda itu.
“Selamat malam. Saya Rafael. Tuan Rasyid ada?” kuserahkan telefon itu pada Ayah. Kulanjutkan belajarku, tapi telingaku tak bisa lepas dari percakapan di sebelahku. Ternyata bule yang tiga bulan lalu datang ke rumahku itu.
“Astaghfirullah” kalimat itu terlontar panjang setelah Ayah terdiam lama menyimak lawan bicaranya bercakap panjang. Wajah Ayah pun menunjukkan angin tak sedap. Sepertinya ada berita buruk. Kusimak setiap patah kata, ternyata memang benar. Intinya Karen, anak si bule telah kehilangan keperawanannya. Ayah terlihat begitu prihatin mendengar kejadian itu. Yang lebih parahnya, semua itu terjadi di Jakarta. Pasti ayah merasa sangat malu pada kerabatnya itu.
Kini aku semakin mengerti dengan Jakarta. Dulu kupikir betapa bangganya aku lahir dan dibesarkan di Jakarta, sebuah tanah Ibukota negara yang serba ada. Tempat dimana semua aktifitas besar berpusat dan semua hal berkembang dengan pesat. Tapi dibalik itu semua, ada jutaan noda hitam yang tersembunyi dibalik megahnya kota Jakarta.
***
Jakarta
Kubayar mahal kau untuk sebuah kunjungan
Tapi kau rampas hartaku yang paling berharga
***
Jakarta
Aku percaya kau memang surga
Kau siapkan seorang bidadari untukku disana
Untuk sebuah kepuasan seks dalam semalam

***
Jakarta
Kau memang fatamorgana yang menipu
Kupikir kau susu, tapi ternyata kau tuba
***
Jakarta
Mau kubawa kemana mukaku?
Kau permalukan aku di depan sahabatku
***
Jakarta
Inilah duniaku
Dimana uang bisa didapat dengan modal nyali berbelok ke kiri
***
Jakarta
Menjadi wargamu, aku tidak patut bangga
»»  READMORE...

Sunday, August 19, 2007

D! Atas sAjadaH c!nT@

0 comments
Kota Kufah terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegak menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teduh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya zahid?atau si Ahli Zuhud? karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan dan paling mencintai masjid di Kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota itu. Saat itu masjid adalah pusat pendidikan, peradaban, informasi dan perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat-ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala di hadapannya. Namun jika sampai pada ayat-ayat nikmat dan syurga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur seluruh tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surah Asy-Syams, ia menangis,
fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
Qad aflaha man zakkaaha
Wa qad khaaba man dassaaha
...
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan merugilah orang yang mengotorinya
...)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah ia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya? Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk orang yang beruntung ataukah yang merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
***
sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari dengan riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar dari 3 lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh mempesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair cinta.
in kuntu asyiqatul lail fa ka si
musyriqun bi dhau?
wal hubb al wariq
...?
(jika aku pecinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar
...)
Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orang tuanya menyunggingkan senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata,
Abu Afirah, puteri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair yang ia dendangkan.?
ya, itu syair cinta. Memang sudah saatnya ia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.?
bagaimana, kau terima atau...?
ya jelas langsung aku terima. Dia kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang menolong kita dahulu waktu kesusahan. Di samping itu Yasir gagah dan tampan.?
tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu??
tak perlu! Tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.?
tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.?
oh, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti akan tobat! Yang penting dia kaya raya.?
***
Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah tidak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya, seorang penari melenggak lenggokkkan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
ayo bangun Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!?Bisik temannya
he...benarkah??
benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini!?
baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.?
Yasir bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari diiringi irama gendang dan seruling. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ke telinga Yasir,
apakah anda punya waktu malam ini bersamaku??
Yasir tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
***
Keesokan harinya.
Usai sholat dhuha, zahid meninggalkan mesjid menuju pinggiran kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berdzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel untuk saudaranya yang sakit tersebut.
Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu terus mendekat dan membesar. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang yang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya mendengar suara?
tolooong...tolooong!!?
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu makin jelas.
Suara minta tolong itu makin jelas juga. Suara seorang perempuan. Dan matanya bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
tolooong! Tolooong hentikan kuda ini! Ia tak bisa dikendalikan!?
Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu makin dekat dan tinggal beberapa meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat, ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,
hai kuda makhluk ALLAH, berhentilah dengan izin ALLAH!?
bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada di punggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekat dan menyapanya,
Assalamualaiki. Kau tidak apa-apa??
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan?
AlhamduliLlah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.?
Syukurlah kalau begitu.?
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik dan mempesona.
tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama tuan, dari mana dan mau ke mana tuan??
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih di depannya. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah pertama kalinya ia menatap gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona. Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. 擨nna liLlah. AstaghfiruLlah,?gemuruh hatinya.
namaku Zahid. Aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.?
jadi kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya Cuma di dalam masjid??
tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.?kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
tunggu dulu tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!?
aku mau melanjutkan perjalananku!?
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zaid. Terang saja Zaid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silahkan datang ke rumahku. Ayahku pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.?
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.
tidak usah.?
terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!?
Terpaksa Zaid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.
***
Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang tentang keshalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengar tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,
inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Robbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Robbi, izinkanlah aku mencintainya.?
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.?
Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matannya.
***
Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat se-khusyu?nya namun usaha itu sia-sia.
ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha Tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan Cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya. Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.?Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segenap keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan menghiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu makin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan adzab-Nya. Rasa cinta dan rindunya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangan. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya, ia kembali pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belum shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah, bercengkrama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah, maka berilah kekuatan.?
Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Dalam sujudnya ia berdo抋,
ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan syurga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murka-Mu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggungnya. Amin. Ilahi, hamba mohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu dan ridha-Mu. Amin.?
***
Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu rumah Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orang tua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketaqwaannya seantero penjuru kota. Afirah keluar sekejap untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala, ia pasrah dengan jawaban yang akan ia terima. Lalu terdengar jawaban ayah Afirah,
anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar oleh Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.?
Zahid hanya mampu menganggukkan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.
***
Zahid kembali ke mesjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketaqwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istighfar dan ... Afirah.
Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telingan Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,
------------------------------------------------------------------- Kepada Zahid,
Assalamualaikum,
Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau, aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau, kau datanglah ke kamarku, aku akan tunjukkan jalan dan waktunya.
Wassalam.
Afirah -------------------------------------------------------------------
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis balasan untuk Afirah:
------------------------------------------------------------------- Kepada Afirah,
Salamullahialaiki,
Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah 扐zza Wa Jalla. Inilah yang kudamba. Dan aku kau ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret pada kenistaan dosa dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari syurga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, 擨nni akhaafu in 抋shaitu Rabbi adzaaba yaumin Adhim!?Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabbku. Az-Zumar:13)
Afirah,
Jika kita terus bertaqwa, Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firman-Nya:
Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu syurga).?
karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha menjaga kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allah-lah yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Wassalam.
Zahid -------------------------------------------------------------------
Begitu membaca jawaban Zahid itu, Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda shaleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamour. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat di mana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa, malam ia habiskan dengan munajat kepada Tuhannya. Di atas sajadah putih itu ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah:
------------------------------------------------------------------- Kepada Zahid,
Assalamualaikum,
Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah RasuluLlah SAW secepatnya.
Wassalam,
Afirah -------------------------------------------------------------------
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab Masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran di dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan AlhamduliLlah.
***
»»  READMORE...

T!t!p !BuKu Ya Allah

0 comments
Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..." Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. "Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa." pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.
Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?"
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata, "Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri"
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu. Ibu menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu.
Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bias dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis.
Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
"Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan "terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ...
Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahua'lam
"Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..." dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil"
"Titip Ibuku ya Allah"
dari "Ihsan jundullah"
»»  READMORE...

TiKa C!nT@ berBuAh SuRgA

0 comments
Sebuah kisah Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya.
Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya.
Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, 揝aid, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.?
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya. 揂pa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga??tanyanya dengan nada penasaran.
揇ia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.?
揃agaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah??tanya Said.
Sang raja menjawab, 揔amu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah kemudian apa yang mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga buitr telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.?
Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.
Melihat itu, Adil berkata keras, 揌anya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!?
Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.
Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.
揑ni makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.?Kata Said seraya meletakkkan piring itu di atas meja.
Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.
揗ana telurnya??tanya Said pada anak saudagar. 揟elah aku makan.?揝emuanya??揧a, habis aku lapar sekali.?
Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
**** Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.
Selesai salat, Said datang dan menyapa, 揔awan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa??
揘amaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.?
Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, 揔ukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.?
Said menyahut, 揟idak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.?
揃aiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seia-sekata.?
Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.
揇engan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!?kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
揚ergilah ke ibu kota , berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,?kata Said sambil tersenyum.
揑nsya Alloh aku akan datang.?Jawab anak pencari kayu itu.
***** Pagi harinya, anak pencari kayu sampai juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu. Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau??
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.
Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. 揈ngkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.?
Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Alloh swt.
Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasaan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.--- baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.---
Sumber : Ketika Cinta Berbuah Surga - Karya Habiburrahman El Shirazy
»»  READMORE...
 

::....mEngGapAiRidhAiLaHi..::: hanya sebuah coretan kecil dari berlembar-lembar cerita yang kulalui Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template